ISD Bab 5 – Warga Negara dan Negara

This slideshow requires JavaScript.






Advertisements

Urbanisasi Pasca Lebaran

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang.

Untuk mengatasi banyaknya pengangguran, maka perlu diperbanyak lapangan kerja di daerah-daerah, sehingga angkatan kerja muda usia tidak tersedot ke kota-kota besar. Intinya, kita perlu menyoroti persoalan yang terkait dengan problem urbanisasi yang senantiasa terjadi pasca-mudik Lebaran. Sebab, ritual tahunan yang menyertai fenomena mudik Lebaran adalah proses urbanisasi penduduk desa menuju kota. Mudik Lebaran, bisa dipastikan diikuti arus balik masyarakat pemudik yang juga diikuti oleh kerabat, keluarga atau tetangga dekat. Beragam latar belakang dari para urban ini. Ada yang sekadar ingin mencari pengalaman kerja sebagai tenaga kasar (mulai dari PRT, karyawan pabrik, atau pekerjaan lain sekenanya) hingga mereka yang memiliki ijazah sarjana. Mereka semua ingin mengadu nasib dan peruntungan di kota-kota besar, berjuang di tengah kompetisi pasar tenaga kerja yang demikian ketat. Sungguh, sebuah fenomena yang sangat jamak dan alami di tengah keterbatasan kesempatan kerja baru dari kawasan pedesaaan.

Meningkatnya proses urbanisasi tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan ekonomi yang dikembangkan oleh pemerintah, urbanisasi sendiri merupakan persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota yang menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Faktor pendorong seseorang untuk melakukan urbanisasi dipengaruhi oleh bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.

1.2.      Tujuan.

Tidak bisa dipungkiri hidup dikota menjadikan kita naik kelas (kalau berhasil) bahkan kita cenderung memamerkan keberhasilan dan kekayaan (meskipun mungkin itu uang hutang) sehingga hidup dikota menjadi impian dan daya tarik orang desa yang mengiurkan. Acara TV, berita TV yang banyak menggambarkan gemerlapnya hidup dikota, semua ada, semua serba dekat, hiburan banyak, menambah rasa penasaran orang desa.  Iming iming surga itulah melengkapi alasan kenapa banyak orang desa yang ingin mengadu nasip ke kota.

Impian untuk menjadi orang sukses juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan urbanisasi,karena perkotaanlah yang memberikan peluang cukup besar untuk mewujudkan impiannya itu.biasanya seseorang yang telah menyelesaikan sekolah atau kuliahnya yang mereka pikirkan adalah mencari pekerjaan yang layak dikota untuk mendapatkan materi juga sebaga sarana menerapkan ilmu yang telah didapat dibangku sekolah maupun kuliah.

1.3.      Sasaran.

Kota merupakan pusat penggerak perekonomian, adanya banyak peluang yang memungkinkan seseorang untuk melakukan kegiatan perdagangan,membuka lapangan usaha  dll. karena dikota iklim perekonomiannya cukup stabil. hal ini seharusnya menjadi perhatian urbanisme sebagai salah satu alternative untuk mewujudkan impianya tentunya didukung dengan usaha keras dan modal usaha.

Pedesaan sebagai tempat penghasil kebutuhan pokok juga sebagai tempat penyimpan hasil bumi mempunyai peranan sangat penting. Bagaimana sebuah kota dapat berjalan bila masyarakat pedesaan melakukan urbanisasi, Perlu adanya kerjasama yang cukup baik antara pengusaha dan pedagang pedesaaan sehingga terjalin hubungan yang menguntungkan di kedua belah pihak, dan mungkin dampaknya juga cukup baik yaitu mengurangi tingkat Urbanisasi yang cukup tinggi dan tidak imbangi dengan kapasitas atau daya tampung sebuah kota.

BAB II

PERMASALAHAN

2.1.      Kekuatan

Faktor positifnya juga pasti ada dari urbanisasi karena tidak ada Negara di era industrialisasi dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berarti tanpa urbanisasi. Beberapa Faktor Kekuatan dari Urbanisasi adalah :

  • Peluang untuk meningkatkan taraf hidup lebih besar
  • Menciptakan sebuah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara pengusaha atau lembaga dengan tenaga kerjanya.
  • Keinginan untuk maju sangat mendukung.
  • Mengisi kekosongan tenaga kerja dari industri dan lembaga lainnya.
  • Tercipta iklim perekonomian yang stabil dan kuat.

2.2       Kelemahan

            Hal – hal yang mempengaruhi dari segi kelemahan adalah:

  • Semangat individualisme dan pragmatisme perkotaan mereduksi semangat kolektivitas.
  • Rendahnya kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan untuk bias berkompetisi di sektor formal perkotaan. Sementara taraf hidup yang tinggi menuntut mereka untuk tetap mendapatkan pekerjaan guna menafkahi keluarganya. Akibatnya banyak dari migrant pedesaan yang menekuni pekerjaan beresiko tinggi.
  • Terpusatnya aktivitas ekonomi di Pulau Jawa membuat daya tampung pulau ini semakin berat (over – populated). Dengan luas tidak lebih dari 7 persen dari total daratan Indonesia, terdapat 137 juta orang (60 persen) dari total penduduk Indonesia. Korelasi positif pada sejumlah persoalan seperti ketersediaan lapangan pekerjaan, kualitas hidup (air bersih, penanggulangan sampah, perkampungan kumuh), ekologi, kesehatan, kriminalitas perkotaan, rendahnya akses pendidikan dan tingginya kemiskinan perkotaan akan terjadi.

2.3       Peluang

  • Untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar.
  • Untuk melakukan kegiatan perdagangan, kegiatan usaha, dan lain-lain.
  • Dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
  • Dapat terlepas dari pengangguran.

2.4       Tantangan/Hambatan

  • Sejalan dengan kehidupan kota yang modern, cenderung menciptakan perekonomian yang neoliberalisme sehingga pelaku usaha kecil dan menengah lama kelamaan akan tersingkirkan dengan sendirinya.
  • Jika tidak mempunyai skill, hal ini akan mengakibatkan tantangan yang berat, seperti menjadi gelandangan, pengemis, dan lain-lain.
  • Banyaknya persaingan untuk mecari pekerjaan di kota-kota besar.
  • Sedikitnya lapangan pekerjaan untuk setiap tahunnya, dibandingkan dengan angka kelulusan.

Continue reading