Makalah 3 – Program Padat Karya Salah Satu Upaya Mengatasi Pengangguran




Advertisements

Peran Program Keluarga Berencana Untuk Mensejahterakan Keluarga

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Depkes RI, 1998).

Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan (Prof. dr. Abdul Bari Saifuddin, 2003).

Sebenarnya ada cara yang baik dalam pemilihan alat kontrasepsi bagi ibu. Sebelumnya ibu mencari informasi terlebih dahulu tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang lengkap, akurat dan benar. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara kontrasepsi sebaiknya mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi yang rasional, efektif dan efisien.KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak pertama (post poning), menjarangkan anak (spacing) atau membatasi (limiting) jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan (ferundity).

1.2.      Tujuan

       1. Tujuan Umum

Program Keluarga Berencana (KB) dirumuskan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakaat melalui batas usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKBBS).

2. Tujuan Khusus

  • Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi.
  • Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.
  • Meningkatnya kesehatan Keluarga Berencana dengan cara penjarangan kelahiran.

1.3.      Sasaran

Sasaran program keluarga berencana tentunya semua lapisan masyarakat baik yang sudah menikah atau yang belum. Dalam hal ini lebih ditekankan pada masyarakat pedalaman atau pedesaan yang mungkin pengetahuan tentang Program Keluarga Berencana (KB) belum sepenuhnya tersampaikan.

Bagi masyarakat yang masih belum menikah juga perlu disosialisasikan masalah KB, karena jika tidak disosialisasikan secara benar akan muncul akibat-akibat contohnya seperti kehamilan, persalinan, dan pengguguran kandungan (aborsi) yang tak aman. KB bisa mencegah sebagian besar kematian itu.

BAB II

PERMASALAHAN

2.1.      Kekuatan

Ditinjau dari sisi kekuatan KB lebih cenderung banyak sisi positifnya dari pada sisi negatifnya. Karena tujuan KB itu sendiri adalah untuk menekan pertumbuhan penduduk dan mewujudkan keluarga yang sejahtera. Beberapa sisi kekuatan dari KB adalah sebagai berikut:

  • Mengurangi atau menekan pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan kematian.
  • Harmonisasi keluarga lebih terjaga.
  • Mencegah setidaknya 1 dari 4 kematian ibu.
  • Peningkatan kualitas penduduk, seperti perekonomian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.
  • Dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium.

2.2       Kelemahan

            Hal – hal yang mempengaruhi dari segi kelemahan adalah:

  • Minimnya petugas untuk mensosialisasikan program KB ke lapisan masyarakat, terutama masyarakat pedalaman atau pedesaan.
  • Miinimnya tersedianya fasilitas kesehatan.

2.3       Peluang

  • Meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  • Mengurangi resiko kematian pada ibu.
  • Menciptakan keluarga yang sejahtera.

2.4       Tantangan/Hambatan

  • Minimnya fasilitas untuk penyampain program KB.
  • Masih maraknya pepatah kuno “banyak anak banyak rezeki”.
  • Pelayanan kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan IUD yang masih dianggap tabu karena harus membuka aurat.
  • Adanya anggapan atau pengetahuan dari para tokoh agama bahwa KB hanya untuk membatasi jumlah anak atau kelahiran saja

Continue reading